Jakarta –
Beragam program Kampus Merdeka belum buka pendaftaran lagi per Jumat (10/1/2025). Sebelumnya, program magang hingga pertukaran pelajar Kampus Merdeka lazimnya sudah membuka pendaftaran dan seleksi pada Januari.
Kampus Merdeka adalah kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) berupa hak mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di luar program studi selama 1 semester dan berkegiatan di luar perguruan tinggi selama 2 semester.
Contohnya seperti Magang Merdeka atau Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) dan pertukaran pelajar ke luar negeri Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi mahasiswa yang ingin mendaftar program Kampus Merdeka, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) mengimbau mahasiswa untuk menunggu kabar dan hasil tinjauan.
“Tunggu dulu aja, karena kita juga ingin review kembali. Karena dari sisi pendapat dari para pengguna, itu agak berimbang,” ucap Satryo pada detikEdu di Gedung D Kemdikbud, Jakarta, Jumat (10/1/2025).
Review Magang Merdeka
Menurut Satryo, ada industri atau perusahaan yang mengeluh terbebani dengan kehadiran peserta magang merdeka. Namun, di sisi lain, ada suara dukungan dari institusi yang terbantu untuk melanjutkan program tersebut.
Sementara dari sisi mahasiswa ada juga yang tidak ingin mengambil program Kampus Merdeka di luar bidang perkuliahannya.
“Karena juga keluhan dari tempat yang dimagangi itu banyak yang mengeluh. Itu beban buat mereka, gitu kan. Ya saya ngerti juga. Juga dari si mahasiswanya, kadang-kadang, ‘Loh saya kan memang ingin berdalam bidang saya, kok saya harus ambil yang di luar’,” tuturnya.
“Semua di-review lagi, semua, dilihat manfaatnya. Kalau dampaknya bagus, jalan terus. Ya, intinya kalau si mahasiswanya merasa puas, terus tempat dia magang juga merasa puas, itu sudah satu indikator bahwa itu akan terus,” ucapnya.
Satryo mengatakan pihaknya juga sedang melihat peluang pendanaan dari perusahaan. Ia menilai perusahaan juga tak sungkan menyatakan kebutuhannya akan mahasiswa jika sesuai dengan bidangnya.
“Kalau kita kelola dengan baik, perusahaan mau mendanai, sebetulnya. Tapi kalau dipaksakan, diharuskan, nanti kan ada yang nggak mau, dia terpaksa dong menerima magang itu, kan. Nah, tapi kalau memang dibebaskan, ada yang cocok bidangnya, perusahaan mungkin butuh juga, saya butuh nih anak-anak ini, hebat-hebat nih. Dia bayar, mau,” ucapnya.
“Nah, itu kita lihat lah, case by case itu. Jangan semua diselenggarakan, paksa semua, jangan, gitu. Makanya merdeka yang bebas, gitu kan. Pilihlah yang cocok,” imbuh Satryo.
Satryo menyatakan mahasiswa punya pilihan untuk tidak ikut Kampus Merdeka.
“Tapi saya katakan, loh, kan ini kemerdekaan. Ini boleh pilih. Mau, silahkan. Nggak mau, nggak apa-apa, gitu loh. Atau mau seperti apa, ajukan aja, nanti kita cari cara, jalannya. Iya. Saya kira, masih sama ya, skemanya,” imbuhnya.
Terkait kelanjutan Kampus Merdeka, Satryo mengatakan program-programnya masih dalam proses peninjauan manfaat dan relevansi. Program yang masih bermanfaat akan dilanjutkan, sedangkan yang kurang bermanfaat diperbaiki.
“Kalau emang sama sekali nggak bisa perbaiki karena emang sudah nggak cocok, ya kita hentikan aja,” ucapnya.
(twu/pal)