Jakarta –
Meski sudah malang melintang sebagai ulama ternama hingga menyandang profesor kehormatan, Yahya Zaenul Muarif atau Buya Yahya tetap lapar akan ilmu. Buya Yahya tak segan mengambil studi S1 lagi di bidang psikologi.
Pada Sabtu (15/3/2025) lalu, Buya Yahya mengikuti wisuda kelulusan dari Program Studi (Prodi) S1 Psikologi di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), demikian dilansir dari situs kampus, ditulis Selasa (18/3/3025).
Dalam prosesi wisuda ke-92 Unissula itu, Buya Yahya salah satu dari 1.814 peserta dari Prodi D3, S1, S2, dan S3 yang mendapat perhatian besar. Dalam video-video pendek yang beredar di sosial media, saat Buya Yahya maju ke depan untuk menerima ijazah, deretan wakil rektor malah bergantian mencium tangan Buya Yahya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan Buya Yahya Kuliah Lagi S1 Psikologi
Saat ditanya kenapa tertarik untuk kuliah Psikologi di Unissula, Buya Yahya menerangkan bahwa psikologi merupakan ilmu yang sangat penting bagi semua orang, tak terkecuali bagi para guru, ustaz, dan kiai. Sebab, pendekatan psikologi dibutuhkan dalam pendidikan.
“Banyak persoalan dalam kehidupan yang akar masalahnya bukan ekonomi, bukan pula yang lainnya, tapi dari aspek psikologi,” ungkapnya.
Pendiri Yayasan Al-Bahjah yang memiliki lembaga pendidikan formal SD-SMP-SMA dan pendiri Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Bahjah ini menyadari, hukum-hukum agama saja tak cukup mengatasi permasalahan hidup manusia sehari-hari.
“Karena itu ilmu yang sangat dibutuhkan hari ini untuk bisa menolong saudara-saudara kita. Banyak permasalahan, ternyata tidak cukup diselesaikan dengan cara hukum-hukum agama. Tapi, ada sisi lain yang harus dibidik dari sisi psikologis, misalnya,” katanya ditemui usai wisuda, seperti dilansir dari Antara.
Pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah itu telah meraih gelar profesor kehormatan dari Unissula pada Januari 2023 lalu. Saat itu Buya Yahya dikukuhkan sebagai guru besar kehormatan ke-7 Fakultas Hukum Unissula.
Gelar profesor kehormatan tak membuatnya cepat puas akan ilmu. Buya Yahya lalu menimba ilmu lagi untuk jenjang S1 Psikologi.
“Harapannya adalah lebih banyak orang yang rindu untuk belajar ilmu-ilmu seperti ini. Ilmu umum semuanya dan ada sinergi antara ilmu dunia sama ilmu agama. Bahkan, seorang faqih, seorang ahli ilmu agama pun tidak akan matang, kecuali mengetahui ilmu-ilmu seperti itu,” katanya.
Dalam berdakwah, menurut Buya Yahya, penting juga untuk mengetahui kondisi psikologis sasaran dakwahnya. Seorang ahli ilmu agama harus terbuka untuk belajar ilmu-ilmu umum di bidang apapun, sebab semua ilmu pengetahuan penting dalam membantu menyempurnakan diri.
“Karena enggak mungkin kita akan memberikan fatwa pada seseorang, kecuali tahu bagaimana keadaan orang itu, ekonominya, psikologinya, dan seterusnya,” tuturnya.
“Maka, hendaknya semuanya itu harus terbuka untuk bisa belajar ilmu apapun demi menyempurnakan dirinya, untuk bisa berkhidmat pada umat lebih besar lagi, lebih bagus lagi,” pungkas ulama kelahiran 10 Agustus 1973 itu.
Rektor Unissula Prof Dr Gunarto SH MH juga memuji semangat Buya Yahya dalam memperdalam ilmu psikologi.
“Ini sekaligus memberikan keteladanan kepada kita semua. Meskipun beliau sudah bergelar Profesor, meskipun sudah terkenal sebagai ulama nasional, tetapi semangat beliau dalam menuntut ilmu tidak pernah surut,” pesannya.
Riwayat Pendidikan Buya Yahya
Dilansir dari situs STAI Al-Bahjah, Buya Yahya menamatkan SD hingga SMP di kota kelahirannya, Blitar, Jawa Timur. Selain sekolah formal, Buya Yahya menempuh pendidikan agama di Madrasah Diniyah yang dipimpin KH Imron Mahbub di Blitar.
Setelah itu berikut riwayat Buya Yahya dalam menuntut ilmu dan mengajar:
- 1988-1993: Pesantren Darullughah Wadda’wah di Bangil, Pasuruan, Jatim di bawah asuhan Al Murobbi Al Habib Hasan Bin Ahmad Baharun
- 1993-1996: Mengajar di pesantren Darullughah Wadda’wah Bangil Pasuruan, sebagai masa khidmah Buya Yahya ke pesantren tempat ia pernah menimba ilmu.
- 1996-2005: Berangkat ke Universitas Al-Ahgaff Yaman atas perintah guru Al-Murobbi Al-Habib Hasan Baharun.
Buya Yahya selama 9 tahun di Yaman belajar fiqih, di antaranya kepada para Mufti Hadramaut:
Syekh Fadhol Bafadhol
Syekh Muhammad Al Khotib
Syekh Muhammad Baudhon
Habib Ali Masyur Bin Hafidz
Dari Habib Salim Asy-Syathiri, Buya Yahya sempat mengambil beberapa disiplin ilmu, di antaranya: fiqih, aqidah, ulummul Qur’an dan mustholah alhadits.
Hadis dan ilmu hadisnya di ambil dari beberapa guru di antaranya adalah Dr Ismail Kadhim Al-Aisawi.
Secara khusus, ilmu ushul fiqihnya diambil dari beberapa pakar, di antaranya:
Syekh Muhammad Al-Hafid Assyingqithi
Syekh Muhammad Amin Assyingqiti
Syekh Abdullah Walad Aslam Assyingqiti
Dr Mahmud Assulaimani dari Mesir
Ilmu bahasa Arabnya diambil dari Syekh Muhammad Alhafid Assyingqiti, dengan kitab terakhir yang dikaji adalah Thurroh Uquduljuman dalam ilmu balaghoh, Thurroh lamiyatul Af’al dalam ilmu shorof, dan Thurroh Alfiyah Ibnu Malik dalam ilmu nahwu.
Ilmu fiqih perbandingannya diambil di antaranya dari Prof Dr Ahmad Ali Toha Arroyyan dari Mesir, seorang alim dari Mazhab Maliki.
Buya Yahya sempat mengajar di Yaman selama lima tahun di Fakultas Tarbiyah dan Dirosah Islamiah (khusus putri) dan di Markas Pendidikan Bahasa Arab Universitas Al-Ahgaff.
Mendirikan Sekolah hingga Perguruan Tinggi
Alasan Buya Yahya mendirikan lembaga pendidikan dan STAI dimaksudkan untuk menampung para santri yang akan dikader menjadi juru dakwah profesional dan andal.
Para santri sebagai calon ulama harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab tuntutan umat dalam berdakwah. Mereka juga harus memiliki wawasan keilmuan yang luas untuk bekal berdakwah, bukan hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu sosial lainnya.
Kiprah Buya Yahya dalam dunia akademis dan dakwah di antaranya:
- Mendirikan Yayasan Al-Bahjah yang menaungi lembaga pendidikan formal tingkat SD, SMP dan SMA
- Mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Bahjah dengan jurusan:
Manajemen Haji dan Umroh (MHU)
Hukum Tata Negara (HTN)
Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
Ekonomi Syariah (Ekos)
Pendidikan Matematika (PM)
- Mengasuh majelis Al-Bahjah dan Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah yang berpusat di Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat dan cabangnya di berbagai wilayah di Indonesia dan mancanegara.
(nwk/twu)