Jakarta –
Muhammad Fazil Ihsan Lanasa menjadi salah satu dari sembilan siswa MAN 4 Jakarta yang diterima di perguruan tinggi luar negeri. Nasa, begitu panggilannya, diterima di enam kampus luar negeri.
Keenamnya yaitu Bachelor of Engineering (Hons), Monash University, Australia; Bachelor of Applied Science, University of British Columbia, Okanagan, Canada; Bachelor of Aerospace Engineering (Hons), University of New South Wales (UNSW) Sydney, Australia; Bachelor of Aerospace Engineering, Arizona State University, United States of America; Bachelor of Aerospace Engineering, University of Sydney, Australia; dan Bachelor of Applied Science, University of Colorado Boulder, United States.
Siswa peminat bidang ilmu teknik dirgantara ini menuturkan, ia sedang mempertimbangkan untuk memilih kuliah di jurusan Applied Science di University of British Columbia (UBC), Kanada atau di jurusan Aerospace Engineering di University of Sydney.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Dua-duanya top di negaranya, dan fasilitasnya lengkap juga, termasuk labnya,” tutur Nasa pada detikEdu, ditulis Selasa (25/3/2025).
Mengajukan Beasiswa
Nasa bercerita, UBS memberikan tenggat registrasi sampai 30 Desember 2025 mendatang. Sedangkan University of Sydney membagi tenggat registrasi pada Summer dan Winter.
Ia sendiri saat ini tengah berproses mengajukan beasiswa internal kampus dan beasiswa eksternal dari Pemerintah seperti Beasiswa Indonesia Maju (BIM) atau Beasiswa Patriot.
Persiapan Mendaftar Kuliah Luar Negeri
Nasa sebelumnya juga tercatat sebagai salah satu dari 350 siswa BIM Persiapan S1 Luar Negeri Angkatan 4. Sejak kelas 11, siswa kelas 12 MAN 4 Jakarta ini mengikuti rangkaian webinar series untuk kuliah luar negeri, kursus IELTS dan SAT, summer program, dan proyek sosial.
Peraih medali emas World Youth Invention and Innovation Award (WYIIA) 2023 ini kemudian mengantongi skor IELTS dan SAT sebagai salah satu bekal mendaftar di perguruan tinggi luar negeri.
Nasa dan kawan-kawan sebelumnya terkendala mengikuti konseling masuk perguruan tinggi luar negeri karena komponen ini ditiadakan pada 3 November 2024 melalui Surat Puspresnas Nomor 1645/J3/PN.06/2024.
Ia menjelaskan, college counseling sedianya memungkinkan siswa didampingi dalam menulis esai, khususnya untuk mendaftar ke universitas di Amerika Serikat dan mengajukan beasiswa. “Buat scholarships,” tuturnya jelang penyampaian petisi keberlanjutan BIM Persiapan S1 Luar Negeri Angkatan 4 di Kantor Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Jakarta Selatan, Rabu (20/11/2024) lalu.
Penggantian (reimbursement) biaya pendaftaran universitas luar negeri juga ditiadakan bagi awardee BIM Persiapan S1 Luar Negeri. Hal ini menurutnya berdampak pada awardee beasiswa BIM Persiapan S1 Luar Negeri yang memiliki keterbatasan ekonomi kendati mengantongi prestasi Olimpiade Sains Nasional.
“Teman saya itu nilai IELTS-nya udah jauh di atas kualifikasi BIM, dan juga ada SAT-nya yang jauh di atas kualifikasi BIM. Tapi karena keputusan itu (tidak ada lagi reimbursement biaya pendaftaran), dia sering drop beberapa universitas gara-gara biaya,” ucapnya.
Nasa sendiri menghabiskan CAD 170 atau sekitar Rp 1,9 juta untuk mendaftar ke University of British Columbia (UBC), Kanada. Sedangkan rencana untuk mendaftar ke University of California (UC) Berkeley dan University of Rhode Island ia urungkan.
“UC Berkeley kemungkinan saya drop, karena harganya lumayan mahal 85 dolar (USD, sekitar Rp 1,3 juta). Dan juga University of Rhode Island 65 dolar (USD, sekitar Rp 1,03 juta),” tuturnya saat itu.
Tak putus asa, Nasa dan kawan-kawan awardee BIM Persiapan S1 Luar Negeri Angkatan 4 di MAN 4 Jakarta bagi-bagi tugas mencari peluang beasiswa di berbagai negara, khususnya di kampus yang menerapkan biaya pendaftaran gratis.
Nasa juga mendaftar ke International Scholars Program, sejenis BIM untuk mahasiswa internasional di Kanada. Beasiswa ini menyediakan gratis uang kuliah dan uang saku per tahun.
Ia semula ingin masuk Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, perguruan tinggi terbaik di dunia versi QS World University Ranking (WUR) 2025. Namun, beasiswa di kampus-kampus AS lazimnya bersifat parsial, tidak menyediakan tempat tinggal dan tunjangan hidup per tahun.
“Saya jadi nge-rescale tujuan saya. Jadi kalau universitasnya nggak ada kepastian soal beasiswa atau apapun, saya drop,” ucapnya.
Sambil mengurus pendaftaran kuliah,
Nasa juga melanjutkan proyek risetnya. Tahun lalu, ia berencana membuat inovasi yang berdampak untuk membantu krisis kemanusiaan seperti yang terjadi di Palestina.
Nasa berharap risetnya dapat mendukung pengiriman logistik ke lokasi konflik yang sulit diakses kendaraan.
“Inginnya, inovasinya nanti bisa diaplikasikan di tempat-tempat yang lagi krisis,” ucapnya.
Kepala MAN 4 Jakarta, Wido Prayoga mengapresiasi siswa-siswanya yang pantang menyerah dalam melamar kuliah di luar negeri. Para siswa saling mendukung dan saling menginspirasi dalam mencari informasi kampus, menulis esai, mengurus dokumen administrasi, dan mengurus Letter of Recommendation.
Para siswa juga berdiskusi dengan guru dan tak segan berbagi pengalaman selama proses seleksi. Sikap open-minded, sinergi, dan kerja sama ini menurutnya menjadi kunci utama para siswa diterima di puluhan perguruan tinggi luar negeri.
“Alhamdulillah, ini adalah bukti bahwa siswa madrasah mampu bersaing di tingkat global. Ini adalah prestasi madrasah secara umum, tidak hanya menjadi prestasi kami saja,” tuturnya dalam laman resmi MAN 4 Jakarta.
“Kesuksesan ini adalah hasil dari kerja keras dan sinergi antara siswa, guru, dan orang tua. Semoga para siswa yang telah diterima di kampus luar negeri dapat menjadi duta madrasah dan membawa nama baik Indonesia di kancah internasional,” imbuhnya.
(twu/nwy)