Jakarta –
Perkenalkan ini Pocut Dwi Vannisa, dara kelahiran Banda Aceh 1 September 2006 yang tumbuh di lingkungan haus akan prestasi akademik. Keluarganya juga disebut sangat menjunjung tinggi pendidikan.
Sang ayah, Teuku Akhsan Firdaus Kaan merupakan lulusan sarjana teknik yang kini bekerja di salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sedangkan ibunya, Cut Dian Eva Rela berhasil lulus dari sarjana kehutanan.
Tak sedikit anggota keluarga besarnya berprofesi sebagai guru dan dosen. Bahkan sejarah akademik dan prestasi yang baik juga diteruskan oleh kakak dan saudara sosok yang akrab dipanggil Pocut itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dibully dan Diejek Orang-orang karena Mimpi Besar
Sejak kecil, ia hanya bisa memandang kagum medali dan berbagai penghargaan yang ditorehkan kakak serta saudaranya di ruang tamu. Namun hal itu juga yang membangkitkan motivasinya untuk berprestasi.
Tetapi, jalannya berbeda dengan kakak dan saudaranya. Ia kerap tertinggal dengan saudara-saudaranya yang telah meraih peringkat tertinggi di kelas dan berkali-kali gagal dalam perlombaan.
“Sedari SMP untuk meraih peringkat 5 besar dikelas saja hampir tidak pernah, bahkan berkali-kali mendapat peringkat terakhir di kelas dan berkali-kali gagal dalam perlombaan,” tutur Pocut dikutip dari laman Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Senin (17/2/2026).
Kendati demikian, ia tidak tumbuh. Kegagalan menjadi pupuk semangatnya dalam mewujudkan mimpi besar meraih medali emas dalam sebuah kejuaraan.
Ia ingin meraih medali emas seperti atlet-atlet yang ditonton di televisi. Namun, hal ini malah kerap menjadi bahan ejekan dari orang-orang terdekatnya.
“Walau begitu, saya memiliki mimpi menjadi bintang besar dan bisa mendapat medali emas seperti atlet-atlet keren yang muncul di TV, tapi karena hal itu juga saya seringkali menjadi bahan ejekan atau bully-an teman sekitar, katanya sih kebanyakan halu,” ungkapnya.
Sempat ditolak oleh sekolah swasta favorit impiannya, Pocut melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMP Negeri 1 Banda Aceh. Di sana, ia mulai menemukan jati dirinya.
Ia mencoba aktif dalam berbagai kegiatan non-akademik. Seperti OSIS, paskibra, dan paduan suara. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler ini membuat karakter dan kepercayaan diri yang sebelumnya terpendam di hati Pocut tumbuh dan berkembang.
Juara FLS2N 2022
Saking aktifnya Pocut di SMP Negeri 1 Banda Aceh, ia mendapat surat rekomendasi untuk mendaftar dengan jalur undangan di SMA favorit. Di titik ini pergolakan kembali datang.
Tentu berasal dari keluarga yang sangat unggul dalam hal akademik, banyak impian agar Pocut melanjutkan sekolah ke SMA. Tetapi, jalur berbeda kembali ditempuhnya.
Dengan pertimbangan matang, ia memilih SMK Negeri 3 Banda Aceh dengan jurusan Tata Boga untuk perjalanan studinya. Di sana, bakat terpendam Pocut di bidang kreatif muncul.
Pada 2022, ia terpilih menjadi peserta Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2022 untuk kategori Film Pendek Dokumenter. Hal ini menghasilkan prestasi pertamanya di tingkat Nasional.
Melalui karya yang berjudul “Lautan Hitam”, Pocut berhasil meraih medali perunggu tingkat nasional. Karya tersebut juga menjadi pembuka prestasi di berbagai ajang lainnya.
Setahun kemudian, sang juara kembali mengikuti FLS2N SMK. Buka film, Pocut mengambil bidang lomba Cipta Lagu. Ia juga diutus sekolah sebagai kandidat LKS Restaurant Service.
Berjibaku dengan jadwal perlombaan yang berbeda membuat dara Aceh ini sempat kesulitan. Bahkan membuatnya bertemu kembali dengan kawan lama yakni kegagalan.
Dalam ajang FLS2N, Pocut mempersembangkan dua buah lagu. Tetapi, dua lagu ini belum mampu membawanya meraih medali emas tingkat nasional.
Ia harus puas dengan medali perak di tingkat provinsi yang kemudian membawa rasa kecewa pada dirinya. Menurut Pocut, waktu itu ia bak merasakan titik terendah karena ekspektasi yang berlebihan.
“Saat itu saya merasakan bagaimana berada titik terendah, titik di mana alam semesta seakan berkata ‘You aren’t good enough‘, titik dimana saya sendiri lah yang menghancurkan ekspektasi tersebut,” ceritanya.
Bangkit dan Raih Prestasi di LKSN 2023
Rasa kecewa itu nyatanya hanya datang sementara, ia harus sadar dan bangkit kembali karena ada satu ajang lomba yang menantinya. Yakni Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK di bidang Restaurant Service.
Didampingi oleh guru pembimbingnya Elysari Nasution dan alumni kompetitor LKS Restaurant Service, Pocut berlatih setiap hari selama 6 bulan. Berlatih selama 6 bulan memang bukan waktu yang singkat.
Ketika rasa bosan datang dan menguji keteguhan hatinya, ia memiliki terapi tersendiri untuk menghadapi itu. Pocut akan memakan ice cream atau bermain ke pantai untuk beristirahat sejenak.
Kesabaran ini akhirnya terbayar. Mimpi meraih medali emas yang diremehkan teman-temannya tercapai di LKSN 2023.
“Lebih kurang enam bulan berlatih setiap hari… akhirnya mimpi itu menjadi nyata,” kenang Pocut.
Dari prestasi ini, Pocut juga mendapat beasiswa 100% di Institut Pariwisata Trisakti dengan program studi Pengelolaan Perhotelan. Ia juga mengikuti program Beasiswa Prestasi institut terkait.
Berkaca dari kisahnya, Pocut yakin mimpi bukanlah sekedar angan-angan. Ia juga mendorong generasi muda lainnya untuk tidak takut bermimpi dan berusaha mewujudkannya.
Pocut berpesan bila sejatinya masa depan ada di tangan kita sendiri. Jangan takut bermimpi besar, karena mimpi adalah langkah awal untuk mencapai kesuksesan di masa depan.
“The future is yours to create. Make it a masterpiece,” tandas Pocut Dwi Vannisa.
(det/pal)