Jakarta –
Lulus ke sebuah perguruan tinggi luar negeri dengan beasiswa tentu akan sangat membanggakan. Terlebih bagi Dafa Aziz, siswa SMA Unggulan CT Arsa Foundation Sukoharjo, Jawa Tengah, yang berhasil diterima di 12 universitas luar negeri.
Tak main-main, kampus yang menerima Dafa bukan sembarang. Beberapa kampus bahkan termasuk yang terbaik di negaranya.
Misalnya University of California, Berkeley di Amerika Serikat (AS). Kampus ini merupakan top 12 universitas terbaik dunia dan terbaik kelima di AS menurut QS World University Rankings (WUR) 2025.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dafa juga diterima di kampus terbaik kedua di Australia yakni The University of Syney. Kampus ini, bahkan termasuk top 18 universitas terbaik di dunia menurut QS WUR 2025.
Lantas, bagaimana bisa ia diterima sebanyak itu? Berikut cerita yang dibagikan Dafa.
Tips Diterima di 12 Kampus Luar Negeri Versi Dafa
1. Memiliki Keinginan Studi ke Luar Negeri sejak Awal Masuk SMA
Apa yang diraih Dafa saat ini, merupakan tekad panjang yang sudah ia punya sejak hendak masuk SMA. Kala itu, ia memiliki kakak kelas yang berhasil kuliah ke Jepang dengan beasiswa.
Kakak kelas itu ternyata merupakan alumnus SMA Unggulan CT Arsa. Maka dari itu, ia bertekad untuk masuk ke sekolah yang sama dan belajar dengan tekad penuh di sana.
“Waktu pertama kali punya interest buat study abroad itu waktu masuk ke sini. Ada kakak kelas angkatan 1 di CT Arsa yang keterima di Jepang. Saya termotivasi dengan itu. Saya cobalah daftar CT Arsa, (karena) sekolah yang bagus ini,” ceritanya kepada detikEdu, saat ditemui di Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (19/3/2025).
2. Beradaptasi dan Fokus Mengembangkan Diri
Sejak awal, Dafa menyadari bahwa di SMA Unggulan CT Arsa berisi orang-orang berbakat. Maka dari itu, ia juga beradaptasi dengan situasi.
“Di tahun pertama, semester awal masih fokus adaptasi lingkungan, karena (baru merasakan) boarding school pertama,” ujarnya.
Setelah adaptasi, Dafa mengaku semangatnya mulai terbangun, terutama usahanya untuk ke perguruan tinggi luar negeri. Ia pun kemudian lebih aktif lagi di bidang akademis dan organisasi.
Pada semester selanjutnya, ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional di bidang matematika untuk tingkat provinsi. Pada 2024 juga melakukan hal sama, ikut OSN matematika.
“Di samping itu saya mengikuti perlombaan karya tulis ilmiah, yang mana saya sempat menjadi juara di lomba peneliti belia, Itu riset matematika di tingkat provinsi Jawa Tengah tahun 2023. Melihat ketimpangan jauh antara akademik saya dan organisasi, di kelas XI saya mulai coba untuk aktif organisasi. Saya menjabat sebagai ketua osis 2023-2024,” ungkapnya.
3. Mendaftar Program BIM
Setelah dirasa percaya diri dengan prestasi dan kemampuannya, ia kemudian tertarik dengan program Beasiswa Indonesia Maju (BIM). Ia mendaftar sejak kelas XI semester 2.
Akhirnya, Dafa lolos program BIM Afirmasi Taman Sains dan menjalani pembelajaran intensif selama 10 bulan di Jakarta. Di seluruh Jawa Tengah, hanya ada 15 siswa yang diterima dan Dafa menjadi satu-satunya dari SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo.
Di sana, ia diberi kurikulum khusus untuk belajar bahasa Inggris dan materi prakuliah, seperti matematika, fisika hingga coding.
4. Push The Limit
Meski sudah terpilih mengikuti program BIM di Jakarta, Dafa sempat merasa kurang percaya diri dengan bahasa Inggrisnya. Hal ini yang membuat dirinya belajar lebih keras.
“Waktu menyiapkan (program). Saya kebetulan dari SMP-SMA skill (bahasa) Inggris masih benar-benar kurang. Makanya waktu pembinaan (10 bulan) saya bener bener nge-push,” ujarnya.
“Saya sempat insecure karena teman saya sudah siap, bahkan 2-3 bulan pembinaan mereka sudah ada yang ambil IELTS,” katanya.
Alih-alih terpuruk, ia segera bertekad untuk mengimbangi siswa lain di program tersebut. Ia bekerja lebih keras dengan menambah waktu belajar setiap malam.
“Nambah belajar sendiri, kelas sampai jam 4 (sore), setelah jam 4 saya masih di kelas sampai jam 7 malam. Karena saya (merasa) tertinggal, biar bisa mengimbangi teman-teman,” ucap Dafa.
Pada akhirnya, usahanya membuahkan hasil. Ia berhasil melewati batas aman IELTS dengan skor 7.0 dan belajar banyak mengenai batasan pada dirinya selama belajar.
“Lega banget setelah IELTS, itu lega banget. (Karena) itu yang paling struggle,” imbuhnya.
5. Memanfaatkan Sebanyak Mungkin Peluang
Karena merasa sudah berjuang keras dan lulus untuk IELTS. Dafa berpikir untuk memanfaatkan peluang dengan mendaftar ke banyak kampus di luar negeri. Apalagi waktu itu awal-awal dapat (diterima kampus-kampus) Australia.
“Setelah passing grade IELTS lolos, langsung apply (ke univ luar negeri). Apply kurang lebih ada 15 universitas (luar negeri),” ungkapnya.
Dari 15 universitas yang ia lamar, sebanyak 12 universitas telah menerimanya. Sementara tiga lainnya masih menunggu pengumuman.
Di Australia, Dafa diterima oleh 8 universitas. Di Amerika Serikat ada 2 universitas dan Belanda juga dua universitas. Sementara tiga kampus yang masih menunggu ada satu di Singapura dan dua di Amerika Serikat.
Terkait pilihannya, ia mengaku sudah mulai menyeleksi mana universitas yang akan ia tuju.
“Sudah ada kecenderungan, saya ke statistika dan sains data. Saya mengurutkan yang rank paling tinggi, yang di Amerika, terus ke Sydney dulu, ketiga baru ke NTU (Singapura),” kata Dafa.
6. Jangan Pernah Takut untuk Mencoba
Bagi Dafa, salah satu yang penting dalam prosesnya, yakni tentang percaya dengan usaha yang dilakukan. Menurutnya, usaha tak akan menghianati hasil.
Selain itu, ia sangat bertekad bahwa memanfaatkan waktu untuk belajar, merupakan hal yang sangat penting.
“Tidak ada alasan untuk tidak belajar, sedikit apa pun waktu harus dimanfaatkan. Jangan takut juga untuk mencoba. Dafa (pernah) insecure dan pesimis, dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, tapi berani untuk coba (ngetes kemampuan),” ucapnya.
“Coba dulu aja,” pesan Dafa.
(faz/nwy)