Jakarta –
Robith Najachil Umam adalah salah seorang dari sekian ribu mahasiswa baru di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Hal yang unik dari sosoknya adalah dia merupakan maba termuda di kampus tersebut.
Robith lulus Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) di jurusan Kedokteran pada usia 16 tahun. Apa tips Robith diterima Kedokteran Unesa di usia lebih muda?
Jalani Akselerasi Selama SMP-SMA
Berbeda dengan rata-rata masa studi anak SMP dan SMA lain. Robith menempuh pendidikan menengah hanya dalam empat tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Saya menjalani akselerasi dengan ritme belajar yang padat. Jika biasanya satu semester ditempuh enam bulan, saya harus menyelesaikan dalam tiga bulan saja. Itu tantangan besar, tetapi juga pengalaman yang sangat berharga,” kata Robith dilansir oleh laman Unesa, dikutip Rabu (2/4/2025).
Menurut Robith tak mudah menjalani sekolah sebagai siswa akselerasi. Ia mempunyai beban akademik lebih dibandingkan siswa dengan masa studi normal.
Tak hanya itu, Robith juga harus belajar dalam hal komunikasi. Pasalnya, kawan-kawannya dua hingga tiga tahun lebih tua.
“Saya harus belajar komunikasi dengan baik dan menemukan kesamaan dengan teman-teman. Saya melihat ini sebagai kesempatan untuk belajar memperkuat kompetensi,” ucapnya.
Dikenal sebagai Siswa Berprestasi
Meski dinobatkan sebagai mahasiswa termuda Unesa, Robith tetap merendah. Menurutnya, semua ini bisa tercapai karena doa orang tua, guru dan para kyai.
“Saya sangat bersyukur bisa mencapai semua ini. Prestasi yang saya raih bukan hanya karena usaha pribadi, tetapi juga karena doa orang tua, guru, serta para kyai yang selalu membimbing saya,” ujarnya.
Selama di sekolah, Robith dikenal sebagai siswa yang rajin dan berprestasi. Ia pernah meraih semifinalis Olimpiade Kedokteran di Unusa, semifinalis Olimpiade Biologi di PGRI Adi Buana, dan dua medali emas dari Pusat Kejuaraan Sains Nasional (Puskanas).
Tips Semangat Belajar & Lolos SNBP
Saat ditanya tips semangat belajar, Robith mengaku bahwa dirinya punya strategi tertentu. Ia senang belajar setelah salat Subuh.
“Saya selalu mencatat ulang materi yang diajarkan guru dengan bahasa saya sendiri. Selain itu, waktu yang cocok untuk belajar ketika setelah sholat Subuh, otak masih fresh dan suasana lebih tenang,” tambahnya.
Selain itu, Robith pun punya amalan yang diajarkan KH Asep Saifudin di pesantrennya. Ia juga selalu mendirikan sholat tasbih seminggu satu kali, membaca surah Yasin empat kali dan istighosah setiap pagi hari.
“Saya selalu diajarkan bahwa keberkahan ilmu datang dari adab kepada guru. Selain itu, saya dan teman-teman di pondok dibimbing untuk sholat malam secara rutin,” katanya.
Setelah lolos SNBP di Kedokteran Unesa, Robith berharap bisa mengamalkan ilmunya dengan baik. Sesuai harapan orang tuanya agar bisa membantu orang yang sakit.
“Orang tua saya berharap saya bisa lebih baik dari mereka. Saya ingin mewujudkan itu dengan menjadi dokter spesialis yang tidak hanya mengobati pasien, tetapi juga berkontribusi untuk masyarakat,” tutur lulusan MAS Unggulan Amanatul Ummah Surabaya itu.
(cyu/nah)