Jakarta –
Pendidikan anak usia dini (PAUD) kerap dianggap tidak penting oleh segelintir orang tua. Namun, siapa sangka ternyata PAUD dapat menentukan kualitas akademis hingga ekonomi seseorang di masa depan.
Hal tersebut diungkap oleh Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Ir Harris Iskandar PhD dalam webinar “Mengapa Anak Perlu Mengikuti PAUD Sebelum Masuk SD?” yang disiarkan YouTube PAUD Pedia, Rabu (5/3/2025).
“Ternyata kelompok yang ikut PAUD dengan yang tak ikut PAUD itu terlihat jelas dalam keberhasilan, dalam kehidupan akademiknya di SD, SMP hingga perguruan tinggi,” kata Harris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
PAUD adalah Investasi Masa Depan Anak
Bukan hanya pengamatan Harris semata, fakta tersebut merupakan hasil studi seorang ekonom peraih Nobel tahun 2000 yakni Prof James Heckman. Ia melakukan sebuah riset terhadap responden secara longitudinal hingga usia mereka 40 tahun.
Metode yang digunakan Heckman adalah marshmallow test, yakni tes berupa penundaan kenikmatan sebagai bentuk keterampilan diri anak dalam menentukan kualitas hidup selanjutnya.
Menurut analisisnya, Heckman mendapatkan data bahwa tingkat return on investment (ROI) pendidikan usia dini mencapai 7-10 persen. Hasil studi ini dipublikasikan dalam jurnal Human Capital Policy pada 2003.
“Pentingnya investasi pendidikan bagi seluruh keluarga yang kurang beruntung untuk memperoleh persamaan akses terhadap pengembangan sumber daya manusia sejak dini (PAUD) dalam mengembangkan kemampuan kognitif dan non-kognitif seperti kecakapan sosial, kesehatan diri sendiri mungkin dari sejak lahir sampai dengan usia 5 tahun,” tulis Heckman dalam makalahnya.
Kondisi Ekonomi Lulusan PAUD Lebih Layak
Data hasil pengamatan Heckman juga menunjukan bahwa sebanyak 65% kelompok lulusan PAUD lulus SMA dan 60% mempunyai penghasilan di atas USD 20.000/tahun. Selain itu, hanya 26% dari kelompok PAUD yang ketergantungan pada bantuan pemerintah.
Menurut Heckman, pencapaian tersebut dipengaruhi oleh kemampuan para responden yang diyakini dikembangkan sejak PAUD. Kemampuan soft skills menjadi pendorong responden menuai karier yang baik.
“Variabel non-kognitif (soft skills) penentu keberhasilan hidup, keterampilan, meregulasi diri, menghadapi tekanan, menunda kenikmatan, ketekunan menghadapi kejenuhan, kecenderungan membuat rencana,” tulis Heckman.
Dalam studi Heckman, lulusan PAUD cenderung dapat menunda kenikmatan sesaat. Selain itu, mereka terlihat punya regulasi diri lebih baik.
“Kelompok anak yang tahan bisa menunda kenikmatan, regulasi diri baik, tidak memakan marshmallow itu akademiknya lebih bagus dan penghasilannya juga lebih tinggi, keluarganya juga lebih harmonis, tidak melakukan kriminal dan bahagia,” jelas Harris.
(cyu/nwy)