Jakarta –
Jika Anda, para penikmat buku, mengidentifikasi literatur AI (Akal Imitasi/Artificial Intellegence) sebagai bacaan berat penuh konten teknis, segera-lah hapus persepsi itu. Setidaknya, setelah membaca dua buku bernafas AI ini: Rolling Coaster Bareng ‘Pacar’ (2023) dan Maratonan Bareng ‘Pacar’ Cara Asyik Menikmati Disrupsi AI (2025).
Buku karya Prof Dr Suyanto, ST, MSc, Guru Besar Kecerdasan Buatan Telkom University (Tel-U) ini menawarkan perspektif literasi unik tentang bagaimana AI bekerja, bersalin rupa, berjejaring, hingga akhirnya mencengkram dunia kontemporer.
Simak penjelasannya soal algoritma stokastik yang menjadi salah satu basis kehadiran AI. Dengan cantik, basis numerik terkait teori peluang ini, dituliskannya dengan apa yang dijalaninya bersama sang istri, Ari Virgandini, saat mendidik kelima anaknya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saya dan ‘pacar’ tertawa lebar. Eyang dan kawannya belum tahu kalau si Kembar sebenarnya belum bisa membaca, mereka hanya menghafal: memetakan gambar dan kalimat secara satu-ke-satu (one-to-one mapping); kalau gambarnya A maka kalimatnya A. Kalian pasti paham, buku untuk anak-anak memang dirancang sederhana. Satu halaman hanya berisi satu gambar dan satu kalimat. Agar mudah dicerna, mudah diingat, gampang dihafal.
Teman-teman, begitulah faktanya: kendati belum bisa membaca, si Kembar sudah pintar menghafal. Dan seperti itulah teknologi AI bekerja. Kebanyakan hanya memetakan pola masukan ke pola luaran, secara satu-ke-satu, dengan kalkulasi stokastik, tidak benar-benar memahami secara kognitif. Ya, AI terlihat pintar, tapi tidak paham persoalan dengan benar. Karenanya, sebagaian ahli menyebut AI sebagai Burung Beo Stokastik: pandai menirukan data yang dilatihkan, tapi tidak benar-benar memahami isinya (halaman 65, buku Marathon-an Bareng ‘Pacar’ Cara Asyik Menikmati Disrupsi AI).
Melihat ini, kita tidak berkerut kening tentang AI serta fundamen di baliknya; Sebab kita yang bukan orang teknik pun faham, algoritma stokastik adalah kemungkinan menghafal dari yang data yang melintas tanpa harus benar-benar faham. Bukankah para pengguna ChatGPT sering dibuat jengkel kala menemui “prilaku” Beo Stokastik ini?
Saat menuliskan sub bab tentang bagaimana menulis untaian coding terkait AI, alih-alih menjelaskan secara teknis dan rumit, Prof Sou, sapaannya, malah menceritakan kisahnya rumah tangganya dengan sang istri.
Menepati janjinya, di bulan Oktober 2004, ‘pacar’ saya benar-benar datang. Dalam beberapa hari saja, di apartemen dan di tempat kerja, dia sudah punya banyak teman. Kendati tertutup hijab, pikirannya begitu terbuka. Sejak lama saya sudah paham: dia memang ekstover luar biasa. Namun, saya masih terus dihantui penasaran: kenapa dia enggak jadi menikah dengan sang Mantan; kenapa dia tidak terbuka soal mantan? Saya ingin bertanya kepadanya, tapi dihadangi cemas, dihalangi jengah. Jadi, lebih baik saya simpan saja penasaran di dada. Lebih baik saya berusaha memahami dan meniru gaya komunikasinya yang cair mengalir, ringan menyenangkan. Teman-teman, saya ingin berbagi satu rahasia. Perbaikan internal kita seringkali dipengaruhi faktor eksternal: tentu saja bergantung kita mau berubah atau tidak. (halaman 87, buku Marathon-an Bareng ‘Pacar’ Cara Asyik Menikmati Disrupsi AI).
Paragraf ini muncul dipantik kisah gaya pemrogramannya dulu yang terburu-buru dengan banyak kesalahan ini-itu. Dan, akhirnya menjadi lebih tenang pasca bertemu profesor muda dan teman kuliah saat lanjut Master of Science on Complex Adaptive System di Chalmers University of Technology, Swedia (2004-2006). Jadi, proses kreasi AI ditekankannya harus diawali dari perubahan internal berpadu inspirasi eksternal.
Mengemas Sisi Teknis
Dengan kata lain, banyak peristiwa riil keseharian efektif “membalut” bagaimana dua pola kerja AI sebagai substansi buku tersebut. Pola pertama, AI bisa dilatih himpunan data amat banyak, sehingga memiliki akurasi tinggi. Sejak kecil hingga mati, seorang manusia, bahkan profesor kutu buku paling ahli sekalipun, hanya mampu membaca-mengkurasi-memahami puluhan-ratusan ribu buku.
Tapi teknologi AI yang makin canggih di tahun 2025 ini, bisa mempelajari milyaran buku hanya beberapa bulan. Artinya, AI punya kapasitas setara jutaan manusia. Dan yang menarik-mengejutkan, AI mampu menemukan pola-pola paling umum secara akurat. Tapi AI kurang baik dalam kreativitas dan humanitas. Mengapa? Karena pola paling umum-yang dipilih berdasarkan probabilitas terbesar-biasanya berlawanan kreativitas dan humanitas manusia yang anti mainstream.
Pola kedua, AI bisa juga bekerja sebaliknya. AI bisa sangat cepat menemukan pola-pola anomali atau tidak umum dalam himpunan big data. Sebagai contoh, AI bisa menemukan pelanggaran aturan, kecurangan dan akal-akalan, hingga mendeteksi kehebatan seseorang. Dua pola itulah yang bikin para ahli meyakini: AI adalah solusi terbaik saat ini. Orang-orang yang bekerja pakai AI akan mendisrupsi mereka yang tidak pakai AI.
Gaya penjelasan yang amat membumi ini sebelumnya juga bisa dengan mudah ditemukan pada buku pertamanya, Rolling Coaster Bareng ‘Pacar’, yang sejak perdana diterbitkan Mei 2023, sudah dicetak empat kali. Semua istilah teknikal AI tak hanya disederhanakan, tapi juga di-sehari-kan, maksudnya ringan difahami karena ada dalam keseharian kita semua.
Kita kemudian jadi faham mengapa bisa sedemikian menyegarkan dan memotivasi dari sebuah buku dengan ruh teknologi. Musababnya adalah, sebelum dua buku ini, sudah ada 12 buku teknis terkait AI dan Big Data yang ditulis Suyanto berpendekatan murni sains. Judulnya, antara lain, Soft Computing: Membangun Mesin Ber-IQ Tinggi, Evolutionary Computation: Komputasi Berbasis Evolusi dan Genetika, Explainable Artificial Intelligence, dan Evolutionary Machine Learning: Pembelajaran Mesin Otonom Berbasis Komputasi Evolusioner.
Tak ketinggalan, pria asal Jombang ini juga pemegang kum 1.050 (kredit guru besar tingkat tertinggi) sekaligus pelahap banyak buku novel. Akhir kata, jika ingin nuansa berbeda saat mengakses literasi AI, dua buku ini layak jadi rekomendasi di baris pertama. Bukan hanya jadi faham bagaimana kecerdasan buatan bekerja saat ini dan ke depannya, tapi pembada juga bisa termotivasi menggunakan kecerdasan riil miliknya dalam menggapai cita, karir, sampai rumah tangga paripurna.
*) Dr Muhammad Sufyan Abdurrahman, Dosen Digital Public Relations Telkom University
(nwk/nwk)