Jakarta –
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyampaikan program wajib belajar 13 tahun bagi anak di Indonesia. Artinya, anak harus mengikuti sekolah pra-SD atau Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) selama satu tahun.
Mengapa anak harus ikut PAUD terlebih dahulu sebelum masuk SD? Direktur Pendidikan Anak Usia Dini, Nia Nurhasanah menjelaskan bahwa pendidikan usia dini penting untuk mengembangkan kemampuan anak dalam sosial dan karakter.
“Pendidikan anak usia dini bukan hanya tempat bermain tapi juga wadah bagi anak kita untuk belajar berinteraksi, berkomunikasi, mengenal lingkungan serta mengembangkan keterampilan motorik dan kognitif,” katanya dalam webinar “Mengapa Anak Perlu Mengikuti PAUD Sebelum Masuk SD?” yang disiarkan YouTube PAUD Pedia, Rabu (5/3/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Nia, masih banyak orang tua yang punya pemikiran bahwa PAUD atau Taman Kanak-kanak (TK) ini tak penting. Padahal, menurut Nia pendidikan usia dini dibutuhkan mengingat anak masih dalam periode emas.
“Pemahaman ini harus kita luruskan bersama-sama karena berdasarkan beberapa penelitian anak-anak yang mendapatkan pendidikan sebelum pendidikan dasar ini lebih dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolahnya,” jelas Nia.
90 Persen Perkembangan Otak Terjadi di Usia Dini
Lebih lanjut Nia menjelaskan bahwa perkembangan otak anak sebesar 90 persen terjadi pada usia 1-5 tahun. Sehingga pada usia tersebut penting untuk dilatih keterampilan kognitif maupun motorik.
“Usia dini adalah periode emas dalam perkembangan anak, di mana dalam tahapan ini otak anak berkembang secara pesat hingga 90 persen dari kapasitas maksimalnya dan ini terjadi sebelum anak-anak masuk ke sekolah dasar atau sekitar usia 6 tahun,” bebernya.
Hal itu juga disampaikan oleh Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD Kemendikdasmen, Ir Harris Iskandar PhD. Ia mengatakan perkembangan sel saraf otak akan menurun mulai usia 6 tahun.
“90 Persen perkembangan sel-sel saraf otak menurut sains itu dimulai sejak dini dan mulai menurun pada usia 6 tahun,” ujarnya.
Beberapa potensi anak harus dilatih terutama yang berkaitan dengan kemampuan berbahasa, membaca, dan matematika serta berpikir kritis, percaya diri, kemampuan memecahkan masalah dan bekerja sama.
“Harus dilakukan tepat waktu agar perkembangan otak mencapai potensi paling optimal,” ujar Harris.
Lulusan PAUD Punya Kematangan Kognitif & Sosial
Harris kemudian mengungkap hasil penelitian tentang peran PAUD bagi seseorang. Kemendikdasmen pada 2021 membuat riset berjudul “Hasil Pemantauan Kesiapan Bersekolah Anak Usia Dini di Indonesia”.
Riset menemukan bahwa 78% anak PAUD mempunyai kesiapan kognitif dan sosial lebih baik dibandingkan 45% anak non-PAUD.
Kemudian, United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) Indonesia dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pun pada 2020 membuat reset “Investing in Early Childhood Education in Indonesia”. Hasilnya menunjukkan bahwa anak PAUD di daerah pedesaan 1,8 kali lebih siap menghadapi SD daripada yang tidak ikut PAUD.
Temuan lainnya dilaporkan oleh Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdibud) bahwa anak PAUD mempunyai nilai rata-rata UASBN 12% lebih tinggi di kelas 1 SD.
(cyu/nwy)