Jakarta –
Indonesia adalah negara yang berada di kawasan cincin api, rawan berbagai bencana. Gempa bumi, gunung meletus, banjir yang membuat sekolah-sekolah juga menjadi korbannya.
Lantas, kalau bencana itu terjadi saat sekolah, guru diharapkan sigap untuk menyelamatkan diri dan anak-anak didiknya. Ada 3 peran utama guru dalam mitigasi bencana ini yang bisa dilatih.
Direktur Plan Indonesia, Ida Ngurah, menyoroti tiga peran utama guru dalam kesiapsiagaan bencana, yaitu sebagai aktivator, kolaborator, dan culture builder.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pertama, guru sebagai aktivator yaitu mengajak murid mengidentifikasi titik-titik rawan di sekolah.
Kedua, guru sebagai kolaborator, guru bekerja sama dengan pihak terkait seperti PMI dan Damkar untuk mendukung kesiapsiagaan.
“Keamanan dan keselamatan ekosistem sekolah bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan bersama. Kerja kolektif bisa dilakukan misalnya dengan PMI, Damkar atau dengan lembaga terkait lainnya untuk mendukung kesiapsiagaan bencana,” ungkapnya dalam webinar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bertema “Guru Hebat, Garda Terdepan Kesiapsiagaan dan Mitigasi di Sekolah” dalam rilis yang diterima Kamis (20/3/2025), ditulis Jumat (21/3/2025).
Ketiga, guru sebagai culture builder, guru menanamkan budaya keselamatan melalui kebiasaan sehari-hari, seperti membuang sampah pada tempatnya dan menanam pohon di lingkungan sekolah.
Ida berharap agar dedikasi yang guru curahkan dapat menumbuhkan budaya aman serta meningkatkan ketangguhan siswa.
Ditambahkan Tenaga Ahli Seknas Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kemendikdasmen, Jamjam Muzaki, peran guru dalam manajemen bencana di sekolah, mulai dari tahap pra, saat, hingga pascabencana.
“Guru juga bertanggung jawab dalam edukasi dan kesadaran dengan mengajarkan murid terkait jenis-jenis bencana, risiko yang mungkin terjadi, dan cara menghadapinya,” urainya.
Selanjutnya, yang bisa dilakukan Kepala Sekolah adalah membentuk Tim Siaga Bencana yang bertugas membuat langkah tanggap darurat untuk mengevakuasi warga sekolah.
Berikut langkah-langkah yang dilakukan pra-saat dan pasca:
Guru perlu memastikan fasilitas sekolah aman dan menata ruang dengan baik.
Guru bertanggung jawab menjaga ketertiban dan keselamatan murid serta melakukan evakuasi sesuai ke titik kumpul yang sudah disepakati.
Pada tahap ini guru terus memberikan dukungan psikososial dengan menenangkan murid agar tetap tenang meski dalam situasi darurat.
Lakukan koordinasi dengan pihak terkait seperti tim penyelamat, petugas kesehatan dan orang tua murid untuk memastikan keselamatan anak-anak.
Pada tahap pascabencana, guru berperan dalam pemulihan emosional dan psikososial serta menyesuaikan metode ajar agar sesuai dengan kondisi murid.
Siap Hadapi Kondisi Darurat Itu Keterampilan Hidup
Direktur Jenderal Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Ditjen GTKPG), Nunuk Suryani, menegaskan pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan sekolah.
“Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang untuk membangun karakter dan keterampilan hidup, termasuk kesiapan menghadapi situasi darurat. Guru adalah garda terdepan dalam meningkatkan pengetahuan murid terkait pengurangan risiko bencana, mulai dari sebelum, saat, dan sesudah terjadinya bencana,” ujarnya dalam webinar.
(nwk/pal)