Jakarta –
Generasi Z resmi menjadi ‘anak baru’ dalam dunia kerja. Lahir pada tahun 1997 sampai 2012, generasi ini perlu menghadapi tantangan baru sebelum terjun dalam dunia profesional.
Tak seperti generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh bersama dengan kehadiran teknologi. Televisi atau perangkat komputer bukanlah hal baru bagi mereka.
Akan tetapi, terbiasa dengan teknologi belum cukup untuk menembus tembok karier saat ini. Ditambah dengan kehadiran Artificial Intelligence (AI) yang disebut akan menggantikan kemampuan manusia.
Tak hanya itu, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga terus bergulir di Tanah Air. Hal ini menjadi faktor penyumbang Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Agustus 2024. Menurut data Badan Pengawas Statistik (BPS), angka TPT telah mencapai 7,47 juta orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketidakstabilan mencari kerja ini dirasakan oleh Graciella Valeska Liander. Alumni Sistem Informasi Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menghadapi tantangan saat ingin mendaftar di perusahaan impiannya, Google Indonesia.
Grace yang saat itu baru saja lulus dari ITB dihadapkan dengan periode Tech Winter, suatu periode penurunan aktivitas Startup dan penarikan investasi. Menghadapi penurunan itu, perusahaan teknologi ramai-ramai menutup pintu untuk karyawan baru atau freeze hiring.
Waktu itu, Grace sudah mengikuti magang di Google Indonesia selama 3 bulan lamanya. Ia menjelaskan jika ada proses bernama intern conversion di mana ia bisa langsung diangkat menjadi karyawan tetap di Google Indonesia.
“Tapi waktu itu karena masih tech winter, jadi waktu itu sempat ada freeze hiring gitu di Google Indonesia. Jadi, options-nya adalah dari tim Google itu menawarkan kalau misalnya ada opportunity di kantor Google yang lain, aku bisa apply,” ceritanya kepada detikEdu, ditulis Jumat (6/12/2024).
Menghadapi kondisi tersebut, Grace tidak tinggal diam. Dia mulai mencari-cari informasi mengenai lowongan pekerjaan lain.
“Selama tech winter itu, aku juga nyari-nyari beberapa opportunity lain. Just in case kalau misalnya ternyata yang kejadian adalah worst case-nya,” jelasnya.
Nasib baik berpihak pada Grace. Ia menemukan lowongan kerja di kantor Google negeri tetangga, Singapura.
“Aku nyari-nyari lagi dan kebetulan di Singapura ada buka, aku reapply yang di Singapura. Terus setelah aku reapply di Singapura, karena aku udah ada background intern ini, aku go through satu proses interview lagi,” papar Customer Engineer Google Cloud Singapura itu.
![]() |
Dalam kesehariannya, Grace membantu pengguna dalam menggunakan servis dari Google Cloud. Ia juga memberikan masukan tentang cara mengimplementasikan Google Cloud dalam bisnis mereka.
“Yang aku suka adalah karena sekarang aku kerjanya untuk market Indonesia. Jadi aku masih bisa interaksi sama orang-orang yang ada di Indonesia juga ngebantu growth-nya bisnis-bisnis yang ada di Indonesia,” ujarnya.
“Jadi, secara nggak langsung meskipun aku kerja dari Singapura, aku kontribusinya buat Indonesia juga,” imbuhnya.
Bantuan Tangan Teladan Tanoto Foundation
Grace mengakui jika salah satu program yang berperan dalam kariernya adalah Beasiswa Teladan Tanoto Foundation. Teladan adalah salah satu Program Tanoto Foundation berupa beasiswa pendidikan tinggi serta rangkaian kegiatan pengembangan diri.
Program ini terbuka untuk mahasiswa aktif dari 10 perguruan tinggi mitra. Adapun tahap pengembangan yang dibuka oleh Beasiswa Teladan berupa Lead Self (Semester 2-4), Lead Others (Semester 5-6), dan Professional Preparation (Semester 7-8).
![]() |
Grace mengatakan jika program Lead Self adalah yang paling berdampak pada pengembangan kariernya. Pada program ini, para awardee Teladan akan diberi bekal mengenai bagaimana memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain.
Grace menceritakan jika dirinya tidak datang dari kota besar. Hal inilah yang membuatnya merasa pendidikan yang ia terima cukup terbatas.
“Aku bukan dari kota yang besar dan mungkin di kota aku yang dulu itu, akses ke edukasi juga lumayan susah. Jadi, pas aku dapat kesempatan ke Tanoto ini dan pertama kali dikenalin sama Leadself, aku jadi sadar kalau misalnya potensi diri kita itu sebenarnya nggak harus dikotak-kotakin, dan kita sebenarnya boleh eksplorasi ke luar limit lah atau kapabilitas yang kita tahu sendiri,” tutur alumni SMA Negeri 1 Dumai, Riau, itu.
Menurutnya, Program Lead Self TELADAN membantu dirinya dalam menemukan potensi, kekuatan, hingga kelemahan diri.
“Lead Self sendiri ngebantu kita buat nge-project kira-kira, let’s say, 4 tahun ke depan aku pengen ngelakuin apa aja, dan untuk mencapai ke sana kira-kira stepnya ada apa aja,” jelasnya.
Dengan tahap Lead Self, Grace merasa terbantu dalam membangun fondasi dirinya dalam karier ke depan. Ia menggambarkan perjalanan karier seperti marathon. Dengan Teladan, ia merasa dipersiapkan stamina dan mental dalam mengikuti ‘perlombaan’ ini.
“Jadi, menurutku program Lead Self itu salah satu yang paling impactful sih buat aku,” jelas Presiden Awardee Teladan Tanoto Foundation di ITB itu.
Magang Perdana Wildan
Manfaat serupa juga dirasakan oleh Wildan Masyiyan Chaniago. Awardee Teladan ini merasa kariernya dimulai pada tahap Career Preparation Teladan.
Dalam tahap itu, para awardee mendapat berbagai informasi terkait persiapan menghadapi dunia kerja, seperti pembelajaran, pengenalan diri, pemilihan karir yang sesuai dengan kompetensi diri, dan berbagai macam tips dan trik dalam proses recruitment. Mereka juga menyediakan mentorship karier.
“Jadi di sesi ini kita, awardee itu tidak hanya diharapkan untuk mengenal apa itu dunia kerja. Tapi diminta untuk bisa menjelaskan 15 tahun ke depan karier kamu seperti apa,” jelas Wildan.
Setelah mentorship, para awardee akan diarahkan untuk mengikuti magang. Mereka dibebaskan untuk memilih perusahaan mitra Tanoto Foundation sebagai tempat magang.
![]() |
“Kebetulan waktu itu aku dapet di salah satu program startup di Jakarta, dan di situ aku banyak belajar tentang adaptasi teknologi. Kemudian marketing, terkait bisnis operations juga aku dapatkan di program internship itu selama 6 bulan,” ujar alumnus Hukum Universitas Andalas itu.
Terakhir adalah program speed dating perusahaan. Di sini, para awardee bisa memilih perusahaan-perusahaan mitra Tanoto Foundation untuk memulai kariernya. Para awardee juga akan melalui proses special recruitment.
“Syukurnya di pas program speed dating ini, aku dapet jodoh ke perusahaan pertama tempat aku bekerja,” ujar Wildan.
Menurut Wildan rangkaian program ini tidak sekadar membuat laporan pertanggung jawaban magang. Tetapi menekankan pemahaman pada dunia karier serta keterampilan yang dimiliki.
“Program tersebut sangat membantu karena kita istilahnya sudah di one to one to lah. Sudah dikasih wejangan terlebih dahulu sebelum masuk ke dunia kerja. Akhirnya kita nggak yang kaget banget, nggak terjadi gap di sana, jadi kita lebih mudah untuk beradaptasi di dunia kerja,” ungkap Legal Supervisor PT. Jet Teknologi Express (J&T Express) itu.
3 Keterampilan yang Bisa Membantu Gen Z dalam Berkarier
Menurut Wildan, ada tiga keterampilan yang dapat membantu Gen Z dalam dunia karier. Pertama adalah kepemimpinan.
Wildan menjelaskan, jika kepemimpinan dapat membuat seseorang menjadi pribadi yang proaktif dan inisiatif. Selain itu, kepemimpinan juga membuat seseorang lebih paham akan kekuatan dan kelemahan dirinya.
“Yang pada akhirnya kita enggak perlu trial and error sih untuk mencoba sesuatu, apa ya, untuk mengambil sesuatu kesempatan. Jadi misalnya dapat kesempatan A, B, C, kita udah bisa tuh milih dengan jelas mana yang sesuai dengan diri kita dan enggak,” ujar Duta Bahasa Nasional 2021 itu.
![]() |
Selain itu, kepemimpinan juga dapat membuat seseorang berkembang di pekerjaan tersebut.
“Karena ketika karier kita naik, maka yang dituntut adalah segi kepemimpinan kita membaik pula. Jadi aku yakin ini keterampilan yang nggak akan pernah, yang bakal terus relevan sih dengan industri dan zaman,” ujarnya.
Kedua adalah keterampilan atau kemampuan adaptif. Adaptif bukan hanya tentang budaya kerja di suatu perusahaan atau industri, tetapi juga adaptasi teknologi.
“Karena tahu banget hari ini teknologi itu udah, kita udah di dunia the door of AI. AI ini dan lain-lainnya, itu kan sebenarnya sangat membantu kita untuk bekerja. Tapi di lain sisi, kalau kita enggak menggunakannya dengan bijak dan tidak menjaga otentisitas diri kita, our authenticity, itu bakal jadi boomerang,” paparnya.
Terakhir adalah pembelajaran berkelanjutan. Wildan menyinggung banyaknya disrupsi yang sedang dialami dunia. Mulai dari pandemi hingga Tech Winter seperti yang dialami Grace.
“Bakal banyak tantangan ke depannya. Jadi bagaimana solusi untuk menghadapi ini, kemampuan untuk terus belajar,” jelasnya.
Cara Tanoto Melahirkan Talenta Unggulan
Talenta yang gigih seperti Grace dan Wildan lahir dari Beasiswa Teladan. Michael Susanto selaku Head of Leadership Development and Scholarship Tanoto Foundation mengatakan, pengembangan diri para awardee sudah dimulai sejak tahap penerimaan.
![]() |
Setelah diterima, pihak Teladan akan melakukan penilaian kompetensi pada para awardee. Kemudian sesampainya di pertengahan program, pihak Teladan akan melakukan survei ulang.
“Kami melakukan yang istilahnya midline, untuk melihat mereka ada di mana hari ini secara kompetensi setelah 18 bulan kurang lebih bersama dengan program telah ada. Lalu pada saat mereka sudah mau lulus di semester 8, kita melakukan survei akhir. Jadi kami bisa melihat melalui program kami, kompetensi yang berkembangnya seperti apa, lajunya, lalu kami evaluasi setiap tahun,” tuturnya.
Berkat kerja keras dari awardee dan Beasiswa Teladan, para awardee tak perlu menunggu lama untuk mendapat pekerjaan pertama. Menurut survei yang dilakukan Tanoto, alumni Teladan hanya perlu menunggu waktu 6 bulan sebelum mendapat pekerjaan pertama. Bahkan, sebelum resmi menyandang gelar sarjana.
“Dan memiliki gaji awal 120% di atas upah minimum regional,” ujar Michael.
Michael mengatakan, jika kesuksesan karier para awardee berkaitan erat dengan soft skills, seperti yang telah dikembangkan dalam Program Teladan. Ia menegaskan jika soft skills memiliki pengaruh hampir 80% pada kesuksesan seseorang.
“Nah kami berharap memang teman-teman teladan, Tanoto scholars ini, mereka punya soft skills yang mumpuni. Sehingga pada waktu mereka masuk dunia kerja, pekerjaan apapun, mereka punya daya bangkit yang lebih tinggi,” harapnya.
Beasiswa Teladan Tanoto Foundation telah mencetak lebih dari 8.000 mahasiswa penembus batas. Program ini masih dan terus berupaya melahirkan pemimpin masa depan.
(nir/nwy)