Jakarta –
“Jangan takut untuk bermimpi, karena ketakutan dan kurangnya rasa percaya diri jadi pembatas kesuksesan”. Begitulah mantra yang dipegang teguh oleh Fina Zakiyatun Nufus, alumnus Universitas Negeri Malang (UM).
Dia telah membuktikan bila keterbatasan fisik bukan jadi penghalangnya untuk mewujudkan mimpi kuliah hingga ke Inggris. Meski harus menggunakan kursi roda, Fina panggilan akrabnya kini berstatus mahasiswa di University of Sheffield, Inggris.
Ia memilih untuk melanjutkan studi di jurusan Language and Education dengan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ingin Dalami Pendidikan Bahasa yang Inklusif untuk Disabilitas
Perjuangannya untuk sampai ke Inggris bukanlah hal mudah. Bahkan sudah ia rasakan sejak berstatus mahasiswa S1 di UM, terutama terkait mobilitas.
“Banyak tantangan yang saya hadapi, terutama fasilitas di UM saat itu belum memadai. Setiap kali kelas berpindah, saya harus meminta agar kelas dipindah ke lantai bawah,” ucapnya dikutip dari laman UM, Kamis (14/11/2024).
Tetapi ia tidak menyerah. Usahanya itu terbayar manis dengan lulus dari UM dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,95.
Proses mewujudkan mimpi kuliah di Inggris dimulai kala pertengahan pandemi Covid-19. Fina memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan tes TOEFL dan mengurus aplikasi beasiswa LPDP.
“Prosesnya cukup panjang, dari persiapan TOEFL, menulis esai, hingga melamar ke beberapa kampus di Inggris dan Australia,” tambahnya.
Fina melamar empat kampus dunia. Namun, pada akhirnya memilih University of Sheffield dengan pertimbangan program yang sesuai, yakni jurusan Language and Education.
Dalam program studi ini, ia akan belajar lebih mendalam tentang pendidikan bahasa yang inklusif untuk disabilitas. Setelah lulus, ia berucap akan kembali ke Tanah Air dan menjadi dosen Bahasa Inggris, serta penulis.
“Saya ingin menjadi dosen Bahasa Inggris dan menulis artikel tentang aksesibilitas di Indonesia,” ucapnya penuh semangat.
Meski penuh keterbatasan, Fina akan terus melangkah maju dengan penuh rasa percaya diri. Perjuangan ini juga dilengkapi dengan dukungan moral dari keluarga dan dosen-dosennya.
“Ibu selalu menyemangati dan percaya pada mimpi-mimpi saya. (sehingga) jangan takut bermimpi, yang membatasi kita adalah ketakutan dan kurangnya percaya diri,” tutup Fina.
(det/faz)